Sebuah gagasan besar tidak selalu lahir dari pertemuan yang besar. Terkadang, percakapan sederhana dalam suasana penuh kekeluargaan justru menjadi awal dari sebuah gerakan yang lebih luas.
Semangat tersebut terasa dalam pertemuan perdana Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dari enam daerah penyangga Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sumatera Utara. Keenam daerah tersebut meliputi Langkat, Binjai, Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Tebing Tinggi.
Pertemuan berlangsung di Kopi Literasi, Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai. Dari enam PDM yang diundang, empat di antaranya hadir, yakni PDM Binjai, Medan, Serdang Bedagai, dan Tebing Tinggi. Sementara PDM Langkat dan Deli Serdang berhalangan hadir karena memiliki agenda di daerah masing-masing.
Meski belum lengkap, pertemuan tetap berlangsung hangat. Pembahasan tidak hanya berkaitan dengan persiapan Muktamar, tetapi juga upaya membangun gerakan bersama antarwilayah.
Dari Silaturahmi Menuju Kolaborasi
Salah satu rencana yang dibicarakan adalah kegiatan bersama yang akan dirangkaikan dengan Milad Muhammadiyah ke-114. Kegiatan tersebut direncanakan dalam bentuk pengajian dengan menghadirkan pimpinan pusat Muhammadiyah dan melibatkan warga Muhammadiyah dari enam daerah penyangga.
Namun, pembicaraan berkembang lebih jauh.
Bendahara PDM Serdang Bedagai, Ahmad Zaki, mendorong agar momentum Muktamar tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Silaturahmi dan pengajian dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kerja sama dalam pemberdayaan masyarakat, termasuk melalui sektor UMKM.
Gagasan tersebut sejalan dengan luasnya gerakan dakwah Muhammadiyah yang tidak hanya bergerak melalui pengajian, tetapi juga pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat.
Dengan demikian, menyambut Muktamar dapat menjadi momentum untuk memperkuat spiritualitas sekaligus mendorong kemandirian sosial dan ekonomi masyarakat.
Enam Daerah, Satu Gerakan
Sekretaris PDM Medan Ibrahim Nainggolan berharap pertemuan tersebut menjadi awal gerakan bersama enam daerah penyangga. Ia juga menilai koordinasi berkelanjutan dengan panitia Muktamar dan Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) penting dilakukan agar potensi setiap daerah dapat diarahkan untuk mendukung Muktamar ke-49.
Setiap daerah tentu memiliki karakter, potensi, dan kekuatan yang berbeda. Jika seluruh potensi tersebut disatukan, Muktamar tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga dapat menjadi momentum memperkuat jejaring, menggerakkan ekonomi umat, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat Sumatera Utara.
Pertemuan di Kopi Literasi mungkin berlangsung sederhana. Namun, dari perbincangan, silaturahmi, dan gagasan yang muncul, terbuka kemungkinan lahirnya gerakan yang lebih panjang.
Muktamar ke-49 diharapkan tidak sekadar menjadi perhelatan yang datang dan berlalu. Lebih dari itu, Muktamar semestinya meninggalkan warisan berupa jejaring yang semakin kuat, kolaborasi yang semakin luas, serta gerakan dakwah dan pemberdayaan yang semakin nyata.
Pertemuan tersebut kemudian ditutup dengan salat berjamaah di Masjid Taqwa Muhammadiyah Sei Rampah.
Semoga silaturahmi perdana ini menjadi langkah awal bagi enam PDM penyangga untuk menyatukan kekuatan dan bersama-sama menyukseskan Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah, sekaligus memperkuat kontribusi Muhammadiyah bagi masyarakat Sumatera Utara.






