Internasionalisasi Sejalan dengan Semangat Kebangsaan
Ahmad Fuad Fanani, dalam Pengajian Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Jakarta pada akhir Agustus 2026, menegaskan bahwa keterbukaan Muhammadiyah terhadap dunia internasional tidak bertentangan dengan semangat kebangsaan. Ia mencontohkan tokoh-tokoh awal Persyarikatan seperti KH Ahmad Dahlan, KH Kahar Muzakir, dan KH Mas Mansur yang menempuh pendidikan atau memperoleh pengetahuan dari luar negeri, namun tetap membumikan gagasan tersebut untuk kepentingan Indonesia.
Fuad menjelaskan bahwa dasar internasionalisasi Muhammadiyah bersumber dari semangat ta’aruf atau saling mengenal sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an. Dalam konteks masa kini, semangat tersebut diwujudkan melalui diplomasi, pembangunan jejaring, serta hubungan dengan masyarakat lintas negara. Kekuatan internasionalisasi Muhammadiyah, menurutnya, bertumpu pada tradisi keilmuan yang terbuka terhadap gagasan pembaruan Islam serta kekuatan kelembagaan pendidikan yang telah dibangun sejak lama.
Institusi Saja Tidak Cukup, Gagasan Perlu Diperkuat
Meski Muhammadiyah telah memiliki sejumlah institusi di luar negeri, termasuk perguruan tinggi di Malaysia dan Australia, Fuad menilai hal tersebut baru merupakan aspek kelembagaan atau hardware. Ia mendorong penguatan software berupa kajian akademik, diskusi, dan produksi pengetahuan tentang Muhammadiyah agar organisasi ini dikenal dunia internasional bukan hanya lewat nama, melainkan lewat pemikiran dan kontribusi nyatanya.
Dalam membangun kerja sama internasional, Fuad menyarankan Muhammadiyah menerapkan pendekatan active hedging, yaitu sikap aktif menjalin kerja sama dengan berbagai pihak tanpa terikat pada satu kelompok tertentu. Pendekatan ini dinilai dapat memperkuat posisi Muhammadiyah sebagai organisasi Islam yang moderat sekaligus terbuka, termasuk berperan sebagai jembatan dialog antara dunia Islam dan Barat.
Peluang Berperan dalam Penyelesaian Konflik Global
Fuad turut mendorong Muhammadiyah membuka ruang lebih luas bagi tokoh Muslim dari berbagai negara serta mengambil peran dalam penyelesaian konflik internasional, termasuk di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, hubungan antarmasyarakat dapat menjadi jalan membangun kepercayaan dan membuka ruang mediasi, didukung oleh jaringan cabang, sekolah, dan perguruan tinggi Muhammadiyah yang tersebar di berbagai negara.
Dengan modal kelembagaan, tradisi keilmuan, dan jejaring yang telah dimiliki, internasionalisasi Muhammadiyah pada tahun 2026 diharapkan tidak berhenti pada perluasan kehadiran fisik semata, melainkan mampu membawa gagasan dan kontribusi Persyarikatan ke ruang diskusi global secara lebih signifikan.






