Sebuah perguruan tinggi tidak lahir dalam satu malam. Di balik berdirinya sebuah institusi pendidikan, selalu ada orang-orang yang lebih dahulu meletakkan dasar, menyumbangkan tenaga, mencurahkan pikiran, dan memperjuangkan sesuatu yang mungkin pada saat itu belum terlihat hasilnya.
Begitu pula perjalanan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Perjalanan kampus ini tidak dapat dilepaskan dari mereka yang pernah menggagas, membangun, mengelola, memimpin, dan kemudian mewariskan amanahnya kepada generasi berikutnya.
Ada sebuah pesan dari Prof. Akrim yang menarik untuk direnungkan: “Saling membantu dan mendukung untuk kebersamaan, memimpin untuk bermanfaat.”
Kalimat tersebut sesungguhnya menggambarkan makna kepemimpinan yang jauh lebih luas daripada sekadar menjalankan jabatan.
Menanam untuk Generasi Berikutnya
Dalam perjalanan UMSU, terdapat kisah tentang seorang pendiri yang berjuang mengurus izin pendirian. Ketika izin tersebut akhirnya diperoleh, beliau justru tidak sempat menikmati perjalanan lembaga yang telah diperjuangkannya karena lebih dahulu dipanggil menghadap Allah SWT.
Kisah tersebut memberikan pelajaran bahwa tidak semua orang yang menanam akan menyaksikan pohon yang ditanamnya tumbuh besar.
Ada generasi yang bertugas membuka jalan. Ada generasi yang memperkuat fondasi. Ada pula generasi yang melanjutkan pembangunan hingga menghasilkan sesuatu yang lebih besar. Begitulah sebuah perjuangan diwariskan.
Karena itu, sejarah UMSU penting untuk terus ditulis dan dikaji. Bukan semata-mata untuk mengenang nama-nama yang pernah berada di dalamnya, tetapi untuk memahami nilai perjuangan yang membuat lembaga ini mampu bertahan dan berkembang.
Sejarah bukan hanya catatan mengenai siapa yang pernah menduduki posisi tertentu. Sejarah juga menyimpan kisah tentang gagasan, pengorbanan, kerja keras, dan keteladanan yang menjadi fondasi bagi generasi setelahnya.
Regenerasi Menentukan Keberlanjutan
Jika dilihat dari perspektif pengembangan sumber daya manusia, perjalanan UMSU merupakan perjalanan panjang manusia dan pengetahuan.
Dosen, tenaga kependidikan, pimpinan, mahasiswa, alumni, dan seluruh unsur yang berada di dalamnya memiliki peran dalam membentuk keberlanjutan institusi.
Karena itu, regenerasi tidak cukup dimaknai sebagai pergantian kepengurusan atau perpindahan jabatan.
Regenerasi adalah proses mentransfer pengalaman, nilai, pengetahuan, budaya kerja, dan semangat pengabdian kepada generasi berikutnya.
Sebuah lembaga akan semakin kuat apabila generasi sebelumnya tidak hanya meninggalkan jabatan, tetapi juga meninggalkan pengetahuan dan keteladanan.
Generasi muda pun tidak cukup hanya menunggu kesempatan. Mereka harus dipersiapkan, diberi kepercayaan, dibimbing, dan diberi ruang untuk berkembang.
Membesarkan, Bukan Mengecilkan
Ada pula sebuah nasihat sederhana dari Kiai Dalail Ahmad: “Semua saling membesarkan, jangan saling mengecilkan.” Pesan tersebut sangat relevan dalam kehidupan organisasi.
Mendorong orang lain untuk berkembang tidak akan mengurangi nilai diri kita. Justru ketika semakin banyak orang mampu tumbuh dan memberikan kontribusi, organisasi akan memiliki kekuatan yang semakin besar.
Karena itu, semangat Unggul, Cerdas, Terpercaya akan semakin kuat apabila dibangun bersama dengan budaya kerja yang kompak.
Kompak bukan berarti semua orang harus mempunyai pendapat yang sama. Kekompakan justru terlihat ketika perbedaan dapat dikelola untuk mencapai tujuan yang lebih besar.
Saling membantu, saling menguatkan, dan saling memberikan ruang menjadi modal penting dalam membangun lembaga yang berkelanjutan.
Memimpin untuk Meninggalkan Manfaat
UMSU bukan milik satu orang, satu kelompok, ataupun satu generasi. UMSU merupakan bagian dari amanah Persyarikatan Muhammadiyah yang dibangun melalui perjalanan panjang.
Karena itu, siapa pun yang memperoleh kepercayaan untuk memimpin sebenarnya sedang menerima amanah yang berasal dari perjuangan generasi sebelumnya.
Amanah tersebut kemudian harus diteruskan kepada generasi berikutnya dalam kondisi yang lebih baik.
Di sinilah makna memimpin untuk bermanfaat menjadi penting.
Kepemimpinan tidak seharusnya hanya diukur dari pencapaian selama seseorang berada dalam jabatan. Lebih jauh, kepemimpinan perlu dilihat dari apa yang berhasil dibangun, siapa saja yang berhasil dikembangkan, dan seberapa kuat lembaga ketika amanah tersebut akhirnya berpindah tangan.
Seorang pemimpin mungkin akan meninggalkan ruang kerjanya, tetapi nilai dan manfaat yang ditanamkannya dapat terus hidup dalam organisasi.
Membangun UMSU yang Berdampak
Pertumbuhan perguruan tinggi tidak hanya dapat dilihat dari pembangunan gedung, bertambahnya program studi, kemajuan teknologi, ataupun capaian kelembagaan.
UMSU berdampak berarti kehadirannya memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa, alumni, Persyarikatan, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.
Pendidikan menghasilkan ilmu. Penelitian melahirkan pengetahuan dan solusi. Pengabdian menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Sementara kepemimpinan memastikan seluruh potensi tersebut bergerak menuju tujuan yang lebih besar.
Semangat khairunnas anfa’uhum linnas—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya—dapat menjadi salah satu nilai yang terus dihidupkan.
Dengan demikian, keberhasilan UMSU bukan hanya tentang seberapa besar kampus ini berkembang, tetapi juga tentang seberapa luas manfaat yang mampu diberikan.
Dari Generasi ke Generasi
Setiap pemimpin pada akhirnya akan menyelesaikan masa amanahnya. Setiap generasi pun akan berganti.
Namun, perjuangan tidak boleh berhenti.
Tugas generasi hari ini bukan merasa sebagai pemilik perjuangan, melainkan menjadi bagian dari mata rantai panjang yang menjaga apa yang telah diwariskan, memperbaiki kekurangan, mengembangkan potensi, dan menyiapkan generasi berikutnya.
UMSU telah dibangun oleh banyak tangan dan pikiran. Maka sudah semestinya setiap generasi memberikan sesuatu yang berarti sebelum akhirnya menyerahkan estafet kepada generasi berikutnya.
Dan dari generasi ke generasi, semoga UMSU terus tumbuh sebagai perguruan tinggi yang unggul, cerdas, terpercaya, kompak, dan berdampak.




