Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan Aisyiyah di Sumatera Utara semakin dekat. Momentum ini seharusnya tidak hanya dipandang sebagai forum untuk menentukan kepemimpinan organisasi, tetapi sebagai kesempatan untuk memperkuat arah gerakan Muhammadiyah dalam menghadapi tantangan masa depan.
Muktamar bukan arena untuk mempertajam persaingan antarfigur. Musyawarah tertinggi Muhammadiyah semestinya menjadi ruang untuk menyatukan gagasan, mempererat persaudaraan, dan merumuskan langkah strategis bagi kemajuan umat.
Karena itu, keberhasilan Muktamar ke-49 setidaknya dapat dilihat melalui tiga hal penting: kelancaran penyelenggaraan, kualitas pengalaman peserta, dan luasnya syiar Muhammadiyah.
Menjadi Tuan Rumah yang Memberikan Kesan
Sumatera Utara memperoleh amanah besar sebagai tuan rumah. Amanah tersebut bukan hanya berada di tangan panitia, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh warga Muhammadiyah dan Aisyiyah.
Muktamar harus dipersiapkan agar berlangsung aman, tertib, nyaman, dan mampu memberikan pengalaman positif bagi seluruh peserta maupun penggembira.
Semangat menjadi tuan rumah juga dapat diwujudkan melalui budaya saling membantu. Rumah-rumah warga Muhammadiyah di Medan, Deli Serdang, Binjai, Serdang Bedagai, Tebing Tinggi, dan wilayah penyangga lainnya dapat menjadi bagian dari ekosistem penyambutan tamu.
Bayangkan jika seorang warga Muhammadiyah dari Sulawesi, Papua, Kalimantan, Jawa atau wilayah lainnya dapat tinggal bersama keluarga Muhammadiyah di Sumatera Utara. Dari sebuah tempat tinggal sederhana, bisa lahir persahabatan dan jaringan baru yang bertahan jauh setelah Muktamar berakhir.
Kehadiran ribuan orang dari berbagai daerah juga menjadi peluang memperkenalkan Sumatera Utara. Selain mengikuti rangkaian Muktamar, para tamu dapat mengenal budaya, kuliner, masyarakat, serta destinasi wisata yang dimiliki daerah ini.
Dengan demikian, mereka tidak hanya membawa pulang pengalaman bermuktamar, tetapi juga cerita tentang Sumatera Utara.
Peserta Bukan Sekadar Hadirin
Keberhasilan berikutnya adalah bagaimana Muktamar mampu menghadirkan perjumpaan yang bermakna.
Muhammadiyah memiliki warga yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, bahkan telah berkembang di berbagai negara. Setiap daerah memiliki pengalaman dan tantangan yang berbeda dalam menjalankan dakwah.
Muktamar menjadi kesempatan untuk mempertemukan keragaman tersebut.
Pertemuan secara langsung memungkinkan warga Muhammadiyah saling bertukar pengalaman, membangun jejaring, dan menemukan gagasan baru. Apa yang berhasil dilakukan sebuah daerah mungkin dapat dikembangkan di daerah lain dengan penyesuaian tertentu.
Karena itu, peserta Muktamar sebaiknya tidak hanya datang untuk mengikuti persidangan. Mereka juga perlu membawa semangat untuk belajar, berbagi, dan memperluas persaudaraan.
Muktamar akan menjadi lebih bermakna ketika setiap orang pulang membawa inspirasi baru untuk dikembangkan di daerah masing-masing.
Menjadikan Muktamar sebagai Momentum Syiar
Muktamar juga merupakan kesempatan besar untuk memperkenalkan wajah Muhammadiyah kepada masyarakat luas.
Syiar tidak cukup hanya melalui baliho, pemberitaan, maupun unggahan media sosial. Hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat dapat melihat nilai Muhammadiyah melalui perilaku warganya.
Keramahan, kejujuran, kedisiplinan, kepedulian, keterbukaan, serta kesediaan membantu sesama merupakan bentuk dakwah yang dapat dirasakan secara langsung.
Islam Berkemajuan tidak hanya disampaikan melalui kata-kata. Ia harus hadir dalam tindakan.
Media digital juga memiliki peran penting. Masyarakat hari ini dapat mengikuti berbagai peristiwa Muktamar melalui media sosial. Karena itu, ruang digital harus dimanfaatkan untuk memperkenalkan gagasan, program, dan kontribusi Muhammadiyah secara positif dan edukatif.
Muktamar seharusnya tidak hanya menjadi pembicaraan di antara warga persyarikatan. Masyarakat luas juga perlu mengetahui apa yang diperjuangkan Muhammadiyah dan bagaimana gerakan tersebut memberikan manfaat dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, kemanusiaan, serta kehidupan kebangsaan.
Jangan Berhenti Setelah Muktamar
Ada satu hal yang lebih penting dari sekadar suksesnya acara, yaitu memastikan energi Muktamar terus bergerak setelah semua peserta kembali ke daerah masing-masing.
Jangan sampai kemeriahan Muktamar hanya berlangsung selama beberapa hari. Gagasan dan semangat yang lahir dari forum tersebut harus diterjemahkan menjadi kerja nyata.
Kemajuan Muhammadiyah juga perlu dirasakan secara lebih merata. Daerah yang memiliki sumber daya lebih kuat dapat berbagi pengalaman dan membangun kolaborasi dengan daerah yang masih menghadapi keterbatasan.
Semangat persyarikatan harus bergerak dari Aceh hingga Papua, dari perkotaan hingga pelosok, bahkan sampai ke berbagai penjuru dunia.
Pada akhirnya, Muktamar bukan tentang siapa yang memperoleh posisi dan siapa yang tidak. Amanah kepemimpinan memang penting, tetapi kontribusi kepada persyarikatan jauh lebih luas daripada jabatan struktural.
Siapa pun yang mendapatkan amanah harus bekerja untuk kemajuan Muhammadiyah. Sementara mereka yang tidak berada dalam struktur tetap memiliki ruang yang sama untuk berbuat dan memberikan manfaat.
Muktamar ke-49 hendaknya menjadi momentum untuk berhimpun, bermusyawarah, mempererat ukhuwah, lalu kembali ke daerah dengan semangat baru untuk bekerja.
Sebab keberhasilan Muktamar yang sesungguhnya bukan ketika rangkaian acara berakhir, melainkan ketika setelahnya Muhammadiyah semakin solid, semakin luas manfaatnya, dan semakin kuat menghadirkan Islam Berkemajuan.
Dari Sumatera Utara, kita kuatkan gerakan Muhammadiyah untuk Indonesia. Dari Indonesia, kita terus hadirkan manfaat bagi kemanusiaan.
Islam Berkemajuan, Cerdas Bangsa, Semesta Bercahaya.






