Kota Medan memiliki hubungan panjang dengan perjalanan Muhammadiyah. Sejak mulai berkembang di kota ini pada 1927, Muhammadiyah telah mengambil peran dalam berbagai bidang, mulai dari dakwah, pendidikan, sosial, hingga kehidupan keagamaan masyarakat.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Muhammadiyah di Medan bukan sekadar perkembangan sebuah organisasi. Gagasan pembaruan Islam yang dibawa Muhammadiyah turut menemukan tempat di tengah masyarakat Medan yang pada saat itu sedang mengalami berbagai perubahan.
Perantau Minangkabau dan Awal Perkembangan Muhammadiyah
Pertumbuhan awal Muhammadiyah di Medan tidak terlepas dari peran masyarakat perantauan, khususnya para perantau asal Minangkabau yang sebelumnya telah mengenal pemikiran pembaruan Islam.
Sejumlah nama seperti Djuin Sutan Penghulu, Sutan Maradjo, dan Haji Syuaib tercatat sebagai tokoh yang ikut mengawali perkembangan Muhammadiyah di Medan. Aktivitas mereka sebagai pedagang tidak menghalangi perhatian terhadap persoalan keagamaan dan kehidupan umat.
Pertemuan yang berlangsung di sela-sela aktivitas sehari-hari menjadi ruang untuk bertukar pemikiran, melakukan kajian keagamaan, serta membahas kondisi masyarakat. Dari aktivitas tersebut, gagasan untuk membangun gerakan Muhammadiyah di Medan semakin berkembang.
Kepengurusan Muhammadiyah di Medan kemudian terbentuk pada 1 Juli 1928. Saat itu, Hr. Muhammad Said dipercaya sebagai ketua pertama. Djuin Sutan Penghulu menjadi wakil ketua, sementara Mas Pono menjalankan tugas sebagai sekretaris.
Terbentuknya kepengurusan tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan Muhammadiyah di Kota Medan.
Dakwah Muhammadiyah Semakin Meluas
Perkembangan Muhammadiyah di Medan juga mendapat penguatan melalui aktivitas sejumlah tokoh yang aktif menyebarkan gagasan pembaruan Islam di Sumatera.
Sutan Mansur dan Fakhruddin menjadi beberapa tokoh yang berperan dalam memperluas dakwah Muhammadiyah ke luar Jawa. Kehadiran para tokoh tersebut ikut memperkuat jaringan gerakan dan memperluas pengaruh Muhammadiyah di berbagai wilayah.
Medan kemudian menjadi salah satu kota yang memiliki posisi penting dalam perjalanan organisasi tersebut.
Salah satu bukti pentingnya posisi Medan terjadi pada 1939 ketika kota ini menjadi lokasi Kongres Muhammadiyah ke-28. Kongres tersebut berlangsung pada 19–25 Juli 1939 dan mempertemukan berbagai tokoh serta perwakilan Muhammadiyah dari berbagai daerah.
Dalam sejarah kongres tersebut, nama Buya Hamka juga memiliki catatan tersendiri. Ia terlibat dalam kepanitiaan dan menjadi salah satu tokoh penting yang memperlihatkan kuatnya hubungan antara Muhammadiyah, dunia intelektual, dan kehidupan keislaman di Medan.
Buya Hamka dikenal tidak hanya sebagai ulama, tetapi juga sebagai sastrawan, pemikir, dan tokoh yang memiliki pengaruh besar dalam perjalanan Islam dan kebangsaan Indonesia.
Medan Kembali Menjadi Bagian dari Sejarah Muktamar
Lebih dari delapan dekade setelah Kongres Muhammadiyah ke-28, Medan kembali mendapatkan kesempatan menjadi bagian penting dalam agenda besar Muhammadiyah.
Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah akan diselenggarakan di Sumatera Utara pada 2027. Momentum ini sekaligus menjadi pertemuan antara sejarah panjang Muhammadiyah di Medan dengan tantangan organisasi di masa kini.
Kondisi Indonesia saat ini tentu berbeda jauh dengan situasi pada 1939. Perkembangan teknologi, perubahan sosial, globalisasi, dinamika ekonomi, hingga transformasi digital telah mengubah cara masyarakat berinteraksi dan menjalankan kehidupan sehari-hari.
Tantangan yang dihadapi umat pun semakin kompleks. Persoalan seperti perkembangan kecerdasan buatan, perubahan iklim, kesenjangan sosial, perubahan pola ekonomi, politik identitas, serta derasnya arus informasi menjadi bagian dari realitas yang harus dihadapi organisasi keagamaan.
Dalam kondisi tersebut, Muktamar ke-49 dapat menjadi ruang bagi Muhammadiyah untuk merumuskan respons terhadap berbagai perubahan zaman.
Dari Warisan Sejarah Menuju Gagasan Masa Depan
Jejak Muhammadiyah di Medan memperlihatkan bahwa perkembangan sebuah gerakan dapat berawal dari pertemuan sederhana dan kegelisahan terhadap persoalan masyarakat.
Dari aktivitas para perantau dan tokoh awal Muhammadiyah, gerakan tersebut kemudian berkembang menjadi organisasi yang memiliki kontribusi luas dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dakwah, dan berbagai sektor kehidupan masyarakat.
Kini, tantangannya adalah bagaimana warisan gerakan tersebut tetap relevan menghadapi perubahan zaman.
Muktamar ke-49 Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Sumatera Utara nantinya bukan hanya menjadi agenda organisasi. Momentum tersebut juga dapat menjadi kesempatan untuk mempertemukan sejarah, pengalaman, dan gagasan baru dalam merancang masa depan gerakan.
Medan yang dahulu menjadi ruang tumbuhnya gagasan pembaruan Islam kini kembali menjadi tempat berkumpulnya warga Muhammadiyah dari berbagai penjuru. Dari kota inilah berbagai pemikiran dan keputusan strategis diharapkan dapat lahir untuk menjawab kebutuhan umat dan masyarakat di masa mendatang.
Sumber: https://tajdid.id/2026/07/medan-kota-sejarah-dan-cahaya-gerakan-islam-menyambut-muktamar-49-muhammadiyah/





