Penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah ternyata memiliki pola dalam menentukan daerah yang dipercaya menjadi tuan rumah. Lokasi Muktamar tidak ditetapkan hanya berdasarkan wilayah tertentu, melainkan diupayakan bergantian antara Pulau Jawa dan luar Jawa.
Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Dadang Kahmad dalam program Bincang Santai di kanal YouTube UMSU FM Medan, Selasa (2/9).
Dadang menjelaskan, pola rotasi tersebut menjadi salah satu upaya agar penyelenggaraan Muktamar dapat dirasakan secara lebih merata oleh warga Muhammadiyah di berbagai wilayah Indonesia.
Lokasi Muktamar Bergantian
Menurut Dadang, pola yang digunakan adalah menyelenggarakan Muktamar secara bergantian antara wilayah Jawa dan luar Jawa.
Ia mencontohkan rangkaian Muktamar sebelumnya. Muktamar ke-47 digelar di Makassar, Sulawesi Selatan, kemudian Muktamar ke-48 berlangsung di Surakarta, Jawa Tengah. Sementara untuk Muktamar ke-49, Muhammadiyah akan kembali menyelenggarakannya di luar Jawa, yakni di Medan, Sumatera Utara.
Pola tersebut diharapkan dapat memberikan kesempatan yang lebih luas bagi berbagai daerah untuk menjadi bagian dari agenda terbesar Muhammadiyah.
Dadang menilai penyebaran lokasi Muktamar juga mencerminkan perkembangan Muhammadiyah yang semakin luas. Organisasi tersebut tidak lagi hanya identik dengan wilayah Jawa, tetapi telah berkembang menjadi gerakan dengan basis warga di berbagai daerah Indonesia.
Ke depan, ia bahkan membayangkan lokasi Muktamar dapat kembali bergeser ke wilayah tengah Indonesia setelah penyelenggaraan di kawasan timur dan barat.
Muhammadiyah Ingin Muktamar Bergaung Secara Internasional
Tidak hanya memperluas jangkauan di tingkat nasional, Dadang berharap Muktamar Muhammadiyah juga semakin dikenal di dunia internasional.
Menurutnya, Muktamar memiliki potensi menjadi forum yang menarik perhatian masyarakat global, termasuk akademisi dan peneliti dari berbagai negara. Kehadiran mereka dapat membuka ruang pertukaran gagasan mengenai perkembangan Islam, masyarakat, dan berbagai persoalan global.
Hal tersebut juga berkaitan dengan semakin luasnya jaringan Muhammadiyah di luar Indonesia. Karena itu, publikasi mengenai Muktamar dinilai perlu menjangkau audiens internasional.
Media Jadi Bagian Penting Persiapan Muktamar
Sebagai Ketua PP Muhammadiyah Bidang Pustaka dan Informasi, Dadang menaruh perhatian khusus terhadap strategi komunikasi menjelang Muktamar ke-49.
Ia menilai media memiliki posisi penting untuk memperkenalkan berbagai agenda dan gagasan Muktamar kepada masyarakat. Semakin luas pemberitaan, semakin besar pula peluang masyarakat mengenal kegiatan serta kontribusi Muhammadiyah.
Karena itu, penguatan media tidak hanya perlu dilakukan melalui media nasional, tetapi juga dengan membangun jangkauan pemberitaan ke luar negeri.
Dadang mendorong Televisi Muhammadiyah (TVMU) mengambil peran lebih besar dalam menyebarluaskan informasi seputar persiapan dan pelaksanaan Muktamar ke-49 di Medan pada 2027.
TVMU Perlu Perluas Jaringan Daerah
Upaya memperkuat pemberitaan Muktamar juga didukung dengan pengembangan jaringan TVMU di sejumlah wilayah.
Saat ini, TVMU mulai membangun biro di tingkat wilayah maupun daerah dengan melibatkan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) sebagai salah satu mitra pendukung.
Di Pulau Sumatera, pengembangan jaringan tersebut antara lain dilakukan di Palembang, Medan, dan Bengkulu.
Keberadaan jaringan media di daerah dinilai dapat membantu menghadirkan informasi yang lebih dekat dengan masyarakat sekaligus memperluas jangkauan pemberitaan mengenai berbagai aktivitas Muhammadiyah.
Dengan penyelenggaraan Muktamar ke-49 di Medan pada 2027, penguatan jaringan media diharapkan mampu membuat berbagai rangkaian kegiatan Muktamar semakin dikenal, baik oleh warga Muhammadiyah di Indonesia maupun masyarakat internasional.





