Sumatra Utara dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan Muktamar ke-49 Muhammadiyah yang akan berlangsung di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) pada 2027 mendatang. Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman, menegaskan bahwa perhelatan besar ini harus mampu membangkitkan semangat baru bagi seluruh kader dan simpatisan Muhammadiyah di seluruh Indonesia.
Perjalanan Sejarah Muhammadiyah Menuju Sumatera Utara
Dalam acara Buka Bersama yang digelar Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Utara di lingkungan UMSU pada 2026, dr. Agus mengingatkan kembali sejarah panjang perjalanan organisasi ini. Ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah lahir di Yogyakarta, berkembang pesat di Padang, kemudian tumbuh besar di Makassar, dan kini memasuki babak baru dengan bergelora di Sumatera Utara seiring ditunjuknya wilayah tersebut sebagai lokasi penyelenggaraan Muktamar ke-49.
Menurutnya, penyebutan Sumatera Utara sebagai tempat Muhammadiyah bergelora menjadi penanda babak baru sejarah organisasi yang terus berkembang mengikuti perjalanan waktu dan dinamika bangsa.
Muktamar Diharapkan Jadi Sorotan Internasional
dr. Agus menyampaikan bahwa Muktamar ke-49 tidak boleh dipandang sebagai kegiatan berskala regional semata. Ia menegaskan bahwa perhelatan ini harus mampu menunjukkan eksistensi Muhammadiyah sebagai kekuatan yang diperhitungkan di tingkat internasional, bukan hanya di dalam negeri.
Klaim tersebut bukan tanpa dasar. Muhammadiyah pernah menerima penghargaan bergengsi Zayed Award for Human Fraternity di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya dalam menjaga persaudaraan kemanusiaan lintas bangsa dan agama. Selain itu, akademisi Robert W. Hefner bahkan pernah mengusulkan Muhammadiyah sebagai kandidat penerima hadiah Nobel. Dua catatan penting ini, menurut dr. Agus, menjadi bukti nyata bahwa Muhammadiyah telah tumbuh menjadi gerakan Islam yang diakui secara global.
Sumatera Utara Diminta Ambil Peran Aktif
Sebagai tuan rumah, PWM Sumatera Utara bersama UMSU diminta mengambil peran aktif demi menyukseskan pelaksanaan Muktamar ke-49 pada 2027. dr. Agus berpesan agar amanah besar ini tidak dijadikan beban, melainkan disikapi dengan optimisme dalam menatap setiap peluang yang ada.
Ia menekankan bahwa seluruh aktivitas di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah seharusnya menjadi sumber kegembiraan, bukan pemicu keresahan. Prinsip ini sejalan dengan statuten Muhammadiyah yang menempatkan kegembiraan sebagai nilai yang harus dirasakan hingga ke seluruh anggota. Menurutnya, seorang pemimpin tidak boleh membiarkan kegelisahan menguasai dirinya karena hal tersebut berpotensi memengaruhi semangat jemaah dan anggota di bawahnya.
Dengan persiapan matang serta dukungan penuh dari seluruh elemen persyarikatan, Muktamar ke-49 di UMSU diharapkan tidak hanya berjalan lancar, tetapi juga mampu memperkuat citra Muhammadiyah sebagai gerakan Islam modern yang berpengaruh di panggung dunia.





