Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, memberikan pesan penting kepada para tholabah (mahasiswa) Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) terkait tantangan perkembangan teknologi masa kini. Beliau menekankan bahwa kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), harus disikapi dengan bijak dan tetap berlandaskan pada fondasi akhlak mulia.
Integrasi Nilai Etika dalam Penggunaan Teknologi
Di era digitalisasi dan otomasi, AI menawarkan kemudahan akses informasi dan efisiensi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan dakwah. Namun, Haedar Nashir mengingatkan bahwa teknologi tidak memiliki dimensi moral dan empati layaknya manusia. Oleh karena itu, para calon ulama dan kader persyarikatan dituntut untuk memiliki kemampuan memilah informasi serta mengintegrasikan nilai-nilai etika agama saat memanfaatkan teknologi tersebut.
Pendidikan akhlak menjadi elemen esensial untuk mencegah penyalahgunaan teknologi yang dapat memicu degradasi nilai-nilai sosial. Mahasiswa PUTM diharapkan mampu memposisikan AI sebagai alat bantu teknis, sementara otoritas pengambilan keputusan moral dan keagamaan tetap berada pada pemahaman akal budi manusia yang berpedoman pada Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Kapasitas Ulama Menjawab Tantangan Zaman
Lebih lanjut, Haedar Nashir menekankan bahwa kapasitas seorang ulama tidak hanya diukur dari penguasaan ilmu agama secara tekstual, tetapi juga kemampuannya dalam merespons dinamika peradaban. Di tengah disrupsi teknologi, kader PUTM harus membekali diri dengan literasi digital yang kuat guna memperluas jangkauan syiar Islam Berkemajuan.
Pesan ini menegaskan komitmen Muhammadiyah dalam mencetak generasi ulama yang adaptif terhadap kemajuan sains tanpa kehilangan esensi spiritualitas. Dengan menjadikan akhlak sebagai pijakan utama, para tholabah PUTM dipersiapkan untuk menjadi agen perubahan yang mampu mengendalikan teknologi demi kemaslahatan umat, bukan sebaliknya dikendalikan oleh teknologi.






